Senin, 25 Agustus 2014

Cukup Allah sebagai Pelindung : Kisah Buya Hamka di Penjara



Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas

Setelah Pemilihan Umum Pertama (1955), Hamka terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante dari Masyumi mewakili Jawa Tengah. Setelah Konstituante dan Masyumi dibubarkan, Hamka memusatkan kegiatannya pada dakwah Islamiah dan memimpin jamaah Masjid Agung Al-Azhar, di samping tetap aktif di Muhammadiyah. Dari ceramah-ceramah di Masjid Agung itu lah lahir sebagian dari karya monumental Hamka, Tafsir Al-Azhar.

Zaman demokrasi terpimpin, Hamka pernah ditahan dengan tuduhan melanggar Penpres Anti-Subversif. Dia berada di tahanan Orde Lama itu selama dua tahun (1964-1966). Dalam tahanan itulah Hamka menyelesaikan penulisan Tafsir Al-Azhar.

Waktu menulis Tafsir Al-Azhar, Hamka memasukkan beberapa pengalamannya saat berada di tahanan. Salah satunya berhubungan de ngan ayat 36 Surah az-Zumar, “Bukan kah Allah cukup sebagai Pelindung hamba-Nya...”. Pangkal ayat ini menjadi perisai bagi hamba Allah yang beriman dan Allah jadi pelindung sejati.

Selasa, 29 Oktober 2013

Perjanjian Suci



Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu".
(QS Ali Imran ayat 81)

Ketika Muhammad, Rasulullah SAW mendekati umur empat puluh tahun, kegiatan yang paling disukai adalah menyendiri (uzlah). Sebelumnya beliau bermimpi dalam tidurnya, dan pasti beliau melihat cahaya subuh dalam mimpinya.
Dengan membawa bekal, beliau pergi ke gua Hira di Jabal Nur, yang jaraknya kira-kira dua mil dari Makkah, gua yang memiliki panjang empat hasta dan lebarnya antara tiga perempat sampai satu hasta. Beliau menghabiskan waktunya untuk beribadah, memikirkan keadaan kaumnya, dan  merenungi fenomena-femomena alam semesta. Beliau juga tidak lupa memberi makan kepada orang-orang miskin. Pilihan beliau untuk menyendiri sebagai langkah persiapan untuk menerima beban yang ditunggunya. Disinilah Allah mengatur dan mempersiapkan kehidupan Muhammad, Rasulullah SAW untuk mengemban amanah yang besar dan mengubah wajah dunia.

Kamis, 23 Mei 2013

Sikap Kita Terhadap Tertuduh

Oleh Ust Abdullah Haidir

Membela kehormatan orang yang belum tentu bersalah tentu lebih baik ketimbang mencelanya. Apalagi jika selama ini dikenal sebagai orang baik...
 

Mencela dan memojokkan, baik dengan bahasa lugas atau sindiran, terhadap saudara yang sedang dilanda tuduhan yang belum terbukti adalah indikasi 'sakitnya hati'
 

Mana yang lebih dekat dengan adab Islam, membela penuduh yang belum dikenal kepribadiannya atau membela tertuduh yang belum terbukti kesalahannya tapi sudah dikenal kebaikannya?
 

Pesan Nabi Jelas: Penuduh harus mengajukan bukti dan tertuduh cukup bersumpah jika mengingkari... (HR. Baihaqi)
 

Sebab kalau semua tuduhan langsung diterima, orang akan ramai-ramai melakukan tuduhan terhadap harta dan darah suatu kaum... (HR. Baihaqi)
 

Para ulama mengatakan: Keliru menghukumi bahwa sesorang tak bersalah, lebih baik dibanding keliru menghukumi bahwa seseorang bersalah...
 

Aneh aja.. jika mengaku aktifis Islam dan sering mengusung tema persatuan, namun ketika sesama aktifis diserbu berbagai tuduhan yang belum terbukti..
 

Alih-alih membela, atau berempati dan mendoakan kebaikan.. Yang ada justru ikut-ikutan memojokkan dengan statment yang kadang lebih menyakitkan dari masyarakat awam...
 

Baik dari adab Islam, atau tinjauan moral, sama sekali tidak mengindikasikan­ ukhuwah yang selama ini menjadi salah satu yang diusungnya..
 

Ukhuwah bukan sekedar jadi judul buku atau seminar...
 

Benarlah ungkapan hikmah yang sering kita dengar... teman yang sejati dapat diketahui saat kita sedang susah...
 

Namun kita tidak perlu mengemis-mengemis pertolongan dengan orang semacam itu. 
Sebab, kebenaran itu, dengan sendirinya akan mendatangkan pendukung....
 

Bergembira apabila mendengar 'kesalahan' saudara sebagai sebuah amunisi... lebih berbahaya dibanding kesalahan saudaranya itu sendiri..
 

Sebab yang pertama akan semakin larut dalam maksiat kebenciannya, dan yang kedua akan semakin sadar dengan kesalahannya dan lebih besar harapan taubatnya..

Senin, 29 April 2013

Kiriman Anak Jogja

Sepulang dari Jakarta, ada kiriman foto dari adek binaan. Foto berisi tentang Islamic Intelectual Class, berikut fotonya..


Jamaah Mahasiswa Muslim Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Proudly Presents:
ISLAMIC INTELLECTUAL CLASS dan MUSAFIR
untuk kamu para pelajar islam, ikuti acara keren ini yah........ini acara bagus banget, ada lomba jelajah dan juga islamic intellectual class
-Musafir, lomba jelajah, menjelajahi area kampus kluster soshum di UGM dengan aneka games yang menarik...
-islamic intellectual class, acara keren yang akan diisi oleh kelompok studi yang bernafaskan islam di kampus UGM......
bagi kamu pelajar muslim/ah yang keren ikutan acara ini yah.....
Insya Allah sangat bermanfaat dan kagak bakal nyesel.....
Segera hubungi CP nya yah.....
Intan (081311044635)
Eka (085755579517)
Ntar juga ada tabligh Akbarnya loh.....bersama Ustadz Fatan dan Insya Allah Ustadz Yusuf Mansur*
Ikut yah..............

Jumat, 15 Maret 2013

IKATAN KITA

Sudah menjadi kebiasaan pekan pertama bulan baru kita merapat. Kali ini merapatnya belum beranjak, masih di daerah timuran (deket Hotel Novotel). Merapatnya tanpa pengusaha, dia lg jalanin bisnis, begitu juga dengan si anak baru, ada urusan konter hpnya di belakang kampus UNS.
Janjian kita jam 07.00 pagi, namun belom ada yang nongol termasuk tuan rumah. Sebagai pendatang pertama menunggu di depan rumah, sambil menunggu si ragil dan si kacamata. 10 menit kemudian, muncul motor shugon merah dari arah barat, dugaan saya si ragil, eh ternyata benar. Tak lama kemudian terdengar suara motor revo dari arah timur, ku tengokkan kepalaku ke belakang. alhamdulillah si kacamata datang.
Suara mesin tak terdengar lagi, semua sudah turun dari motor. Si kacamata memberanikan masuk ke dalam rumah. Suara salam terucap darinya beberapa kali. Namun tak ada jawaban yang terdengar. Dalam batinku, mungkin si empunya sedang ke pasar.